Rabu, 25 Juli 2012

Lauhul Mahfudzku Bag. 1


Kamar ini, foto-foto ini, jaket dan lampion ini. Kurasakan hawa dan nuansanya masih tetap sama. Tak ada perubahan sedikitpun meski ruangan ini telah lama tak ditempati. Meski Kau telah tiada, tak ada yang berani mengubah tata letak barang-barang yang ada dikamar ini. Walaupun terkadang Mamah Vera dan Papah Rudi berusaha untuk melarangku memasuki kamar ini. Tetapi aku tetap bersikukuh untuk meluangkan waktu bersantai dikamar ini. Kenanganku bersamamu yang hingga saat ini belum bisa aku lupakan. Meski banyak teman pria yang berada disekitarku turut menghias hatiku. Terkadang aku belum bisa sepenuhnya memberikan hatiku seperti yang pernah aku lakukan padamu, Rubby.

Muhammad Rubby Fernanda atau yang sering dipanggil Rubby kini telah tiada. Kepergiannya dua tahun lalu sangat mengguncangku. Membuatku hampir gila dan hilang kendali dalam semua hal. Perpisahan kami di tangan Tuhan, memanglah menjadi pukulan hebat bagi semua yang mengenalnya. Sosoknya yang baik, bijaksana, dan sholeh tak mudah begitu saja kami lupakan. Terlebih lagi anggota LD yang sangat dekat dengannya.

Komitmen untuk menjadi sahabat sejati selamanya telah kami langgar bersama. Entah apakah ini azab yang harus kami terima karena melanggar larangan itu. Cinta yang menggebu di antara kami berdua sangatlah kuat. Sehingga kami pun sepakat untuk melangkahkan kaki menuju langkah yang lebih serius. Enam tahun kebersamaan kami sebagai sahabat, aku rasa cukup untuk saling belajar memahami satu sama lain.

Pertemuanku yang tak sengaja dengannya awalnya terkesan biasa saja. Lulus dari bangku sekolah dasar telah membuka mataku untuk mencari teman-teman baru. Setelah beberapa bulan menjalani masa-masa dibangku Madrasah, salah seorang temanku mengenalkan aku padanya. Wajahnya yang tampan dan manis pun menjadi sorotan orang-orang yang ada di sekitarku. Rambutnya yang lurus dan terlihat lembut pun menjadi daya tarik tersendiri baginya. Anaknya sangat murah senyum dan perhatian kepada seluruh kaum hawa.



~~ Terbentuknya LD

Sebelum aku mengenalnya lebih jauh, aku dan beberapa orang temanku yang hobby ngongkrong bareng pun berpendapat ingin memberi nama pada perkumpulan kita ini. Beberapa usul telah terlontar dari beberapa mulut. Nama demi nama telah masuk kategori dan kami sibuk mencari arti yang tepat. Hingga akhirnya pilihan pun jatuh pada usulku yang ingin memberi nama perkulmpulan itu dengan nama LD (Laskar Dumbledor). Kebetulan kami semua penggemar berat Harry Potter. LD terbentuk kurang lebih sembilan tahun yang lalu. Dan aku pun di tunjuk oleh teman- teman untuk menjadi ketua perkumpulan para bocah ini. Sebenarnya tak kuinginkan adanya ketua dalam hal ini, karena niatnya adalah hanya ingin berkumpul bersama-sama dengan gembira.

Bulan demi bulan telah berlalu, hingga kami lebih sering berkumpul dan akrab. Terlabih aku dan Chandra yang memang sebenarnya telah saling menyukai. Akan tetapi kami sama-sama malu untuk mengakuinya. Hingga pada akhirnya di pertengah tahun ajaran kelas dua madrasah, dia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya padaku. Aku pun menerimanya. Hubungan kita berjalan manis bahkan amat sangat manis. Kedua orang tuanya langsung menyukaiku saat Chandra mengajakku kerumahnya. Begitupun orang tuaku. Rasanya senang sekali apabila menjalani hubungan dengan adanya restu kedua orang tua kami. Waktu semakin cepat berlalu, hingga mengantarkan kami di penghujung putih biru.


Kepergian Chandra ~~

Aku dan Chandra selalu saja berada di sekolah yang terpisah. Saat aku telah lulus dari madrasah, aku melanjutkan ke kesekolah kejuruan sedangkan dia melanjutkan ke sekolah umum. Langkah kami di LD pun menjadi menjadi sorotan para anggota lainnya. Hingga akhirnya Enggar dan Cindy pun ikut menjalin kasih. Tak hanya itu, Roy dan Gendis, Ketut dan Nolan pun juga ikut mewarnai adanya cinta lokasi di dalam perkumpulan. 

Hingga waktu yang kutakutkan terjadi, di situlah awal dari berubahnya kisah kita yang selama ini terjalin. Chandra di utus papanya untuk meneruskan usaha hotelnya di Surabaya.  Chandra pun menuruti permintaan Papanya yang saat itu mulai sakit-sakitan karena penyakit jantung yang dideritanya sering kambuh. Dengan berat hati aku harus merelakan Chandra pindah sekolah ke Surabaya. Setitik butiran bening itu mengalir dari ujung matanya saat aku mengantarnya ke bandara. Janji yang Ia ucapkan cukup meyakinkan aku saat itu.

Chandra : “ Aku akan kembali lagi ke kota ini, menjemputmu dan kemudian melanjutkan kisah kita. Sayangku padamu dan rinduku padamu akan selalu kupendam hingga akhirnya nanti kita bertemu dan menumpahkan semua kerinduan kita pada pelukan hangatmu.



Tangannya sedikit demi sedikit semakin menjauh dari tanganku. Terlepas gengggaman ini dan kulihat Chandra menesteskan air matanya. Lambaian tangannya mengisyaratkan kesedihan mendalam. Kusembunyikan kesedihan ini dihadapan teman-teman LD yang ikut menemani kepergian Chandra. Kubalikkan badan dan menatap mereka yang ikut bersedih. Kurangkul Batak dan kembali menuju mobil. Duduk dan bersandar di antara Batak dan Rubby. Kurasakan tangan Rubby menggenggam erat tanganku, kurebahkan kepalaku di bahunya. Dinginnya tanganku kini menjadi hangat karena sentuhan tangan Rubby. Kupejamkan mataku dan akhirnya kutertidur karena lelah.

Keesokan harinya aku jalani semuanya sendiri. Tak ada Chandra yang selalu mengantarkan aku ke sekolah. Kucoba menghubunginya tetapi handphonenya tak aktif. Kucoba berkunjung kerumahnya untuk menemui Tante Mega, tetapi hanya rumah kosong yang terlihat. Rumahnya tertutup rapat dengan gembok besar mengunci pagar. Sempat syok akan hal itu dan aku hanya bisa menangis. Dua tahun kisah kami yang terjalin harus berakhir dengan kesedihan seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar kalian jika memang kalian ingin berkomentar. Asalkan komentar kalian tidak menggunakan kata-kata negatif ^_^